Arti Nyambut Gawe

Bekerja harus semangat. Karena ada Tuhan di balik rambut gava.

“Selamat bekerja, Leh.”

Mendengar kalimat di atas, ingatan saya tertuju pada peristiwa yang terjadi sekitar empat tahun lalu. Tepatnya pada tahun 2014, saat itu saya sempat putus asa karena tidak diterima di program pascasarjana Universitas Negeri Semarang. Telepon orang tua. Saya melaporkan kegagalan ini. Ibu saya sangat senang dengan suara yang saya dengar. Saya disuruh pulang ke kampung halaman. Pekerjaan di rumah orang tua juga banyak, hanya “selamat bekerja”.

Sekarang hal itu muncul lagi di kepalaku. Mengapa bahasa bisnis yang sopan tidak sekadar “memberi” atau “memberi”? Juga tidak bekerja. Tetapi bahkan mulai bekerja. Rasa penasaran ini bertambah ketika kata “selamat datang” dipilih.

Jika kedua kata ini diartikan secara terpisah, nyamt diartikan sebagai kata serapan. “Memberikan” berarti mempersiapkan. Lalu apa yang dipinjam? Siapa yang harus dipinjam? Apa yang harus dilakukan: Karya siapa yang akan dipinjam? Jika kedua kata ini tidak bermakna dan nyambung, tentu tidak akan menjadi istilah dalam tatanan “kelas” tinggi orang Jawa, yaitu Krama Inggil.

Kemudian saya mengartikan “nyambut gawe” untuk meminjam suatu tindakan atau tugas. Dari siapa kita meminjam? Meminjam dari Allah: Allah SWT. Pinjaman untuk menunaikan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. Menjadi khalifah berarti menjadi wakil Tuhan di muka bumi. Jadi, lebih jelasnya, menyambut Prapaskah meminjam tugas Tuhan.

Jadi, sebenarnya pekerjaan atau profesi apapun, apapun jabatannya, pegawai berpangkat tinggi atau rendah, semuanya dipinjam dari Tuhan. Jika dia mengambil kasusnya, maka kita harus jujur. Sebaliknya, ketika kita masih memiliki pekerjaan atau “selamat bekerja”, maka kita harus bekerja sebaik mungkin. Karena pada hakekatnya kita sedang meminjam dari Allah sebagai khalifah di muka bumi.

Rambean, Jumat, 21 September 2018

Leave a Comment