Makna, Sejarah, Gerakan, dan Tata Busana

Halo Teman MI! Indonesia mempunyai kekayaan budaya yang sangat beragam. Salah satunya tentang tari. Tentunya setiap tarian yang ada di Indonesia mempunyai filosofi dan keunikan tersendiri. Kali ini Mengenal Indonesia akan membahas tentang tarithengul, salah satu tarian tradisional yang berasal dari Jawa Timur.

Bagaimana sejarah, makna, dan keunikan tarian ini? Yuk simak penjelasannya!

Arti Tari Thengul

Tari Thengul berasal dari Bojonegoro, Jawa Timur. Tarian ini terinspirasi dari wayang kulit, yaitu salah satu jenis wayang yang menggunakan wayang. Tarian ini bercirikan gerakan tubuh dan wajah yang kaku, serta mata penarinya melotot ke kiri dan ke kanan seperti boneka.

Tarianthengul diiringi musik dan tabuhan gendang yang naik turun. Artinya, para penari tarian ini seolah mengajak penontonnya untuk bercanda hingga tersenyum atau bahkan tertawa.

Ekspresi wajah yang ditampilkan para penari cukup beragam, mulai dari tertawa, mengerutkan kening, hingga melotot sehingga menambah kesan humor. Oleh karena itu, tarithengul cenderung bersifat komedi.

Tari Thengul biasanya ditampilkan dalam serangkaian upacara, seperti khitanan dan pernikahan. Selain itu, tarithengul digunakan sebagai tarian penyambutan tamu-tamu penting di lingkungan Kabupaten Bojonegoro.

Sejarah Tari Thengul

Pencipta tarithengul adalah Joko Santoso dan Ibnu Sutowo. Tercatat, tarian ini pertama kali dipentaskan pada Festival Tari Tradisional pada Pekan Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur pada tahun 1991. Sejak saat itu, tarithengul menjadi ikon budaya Bojonegoro.

Tarian ini diciptakan sebagai upaya pelestarian untuk menghidupkan kembali budaya wayangthengul yang dikhawatirkan akan punah dan hilang pada generasi mendatang. Ada pula beberapa tarian lain yang berasal dari tarian ini seperti gyeran, tsindir thethengulan, danthengul golek.

Pada tahun 2018, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia telah menetapkan kesenian ini sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia.

Pada tahun 2019, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menyelenggarakan Thengul International Folklore Festival (TIFF) yang mempertemukan delegasi internasional dari Polandia, Bulgaria, Meksiko, dan Thailand.

Festival ini juga berhasil meraih rekor MURI sebagai penggagas dan penyelenggara Tari Thengul dengan peserta terbanyak yaitu 2.050 orang yang berasal dari berbagai sekolah di lingkungan Bojonegoro.

Kemudian pada tahun yang sama, tarian ini menjadi salah satu penari pada perayaan HUT RI ke-74. Sebanyak 250 orang penari Thengul yang didatangkan langsung dari berbagai SD, SMP, dan SMA di Bojonegoro tampil di Istana Negara.

BACA JUGA: Tari Saman: Asal Usul, Keunikan, Gerakan, Pengiring, Busana dan Pola Lantai

Gerakan Tari Thengul

Tarianthengul biasanya dibawakan oleh 5 sampai 10 orang penari yang sebagian besar adalah perempuan dengan iringan gamelan. Namun tidak menutup kemungkinan tarian ini juga dibawakan oleh laki-laki. Gerakan dalam tarian ini dapat diartikan sebagai ciri khas masyarakat Bojonegoro yang gesit dalam beraktivitas sehari-hari.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, seluruh anggota tubuh dan wajah digerakkan seperti wayang kulit yang kaku dan patah. Meski kaku, ekspresi wajah yang ditampilkan para penari cukup beragam, mulai dari tertawa, cemberut, hingga melotot.

Pertunjukan diawali dengan gender terbuka dan dilanjutkan dengan slantem dengan oklik. Kemudian penari keluar dengan jalur pinokio dan dilanjutkan dengan pembukaan cluluk, menari, playon, bercanda dan kemudian ditutup dengan kayon.

Dalam pengiring tari Thengul terdapat lirik ikonik yang berbunyi “Jangan berhenti jogging, ayo lanjutkan, jangan berhenti menari”. Para penari semakin bersemangat dan mulai menari setelah liriknya dilantunkan.

Tata Busana, Tata Rias, dan Aransemen Musik

Dahulu, pakaian tarithengul merupakan kemben sebagai representasi dari wayang kulitthengul. Namun dalam perkembangannya, selain kemben juga digunakan kebaya lengan pendek. Hal ini dilakukan agar dress code pada tarian ini menjunjung tinggi norma kesopanan masyarakat Bojonegoro. Sedangkan bagian bawah gaunnya menggunakan kain bermotif panjang.

Penari tari thegul memakai riasan berupa bedak tebal berwarna putih, pipi berwarna merah, dan riasan hitam pada ujung dahi berbentuk lengkungan, serta lipstik berwarna merah. Rambut para penari dibentuk menjadi sanggul. Tata riasnya membuat penampilan para penarinya semakin mirip dengan wayang thegul.

Sedangkan sistem musik tarinya menggunakan iringan pelok dan slendro. Alat musik yang digunakan antara lain gendhing tenggoor, orek-orek, oklik, ithik-ithik, biola, dan gamelan harmonik. Lagu dan senggakan juga dinyanyikan untuk mengiringi pentas tarian ini.

BACA JUGA: Tari Tor Tor: Sejarah, Gerakan, Pakaian, dan Pola Lantai

Jangan lupa untuk terus membaca postingan kami ya sobat MI. Mudah. Dengan sekali klik Di Sini. Rasakan manfaat, kesenangan, dan keseruan mengenal Indonesia melalui postingan di website dan akun media sosial mengenal Indonesia.

Leave a Comment